Rabu, 13 April 2011

Kesaksian Hidup


Awal mulanya, ketika itu belum mengenal Tuhan, saya menjalankan bisnis kayu. Itu saya lakukan ketika saya baru berusia sekitar 17 tahun. Saya tinggal di Jangkang 1, daerah Kubu dengan Papa. Pada masa itu, kayu Ramin sedang berjaya. Lalu juga kayu Kempa, kemudian setelah itu, berbagai jenis kayu Meranti (log/bantalan).
Usaha ini saya rintis sendiri, masih bujangan. Ketika menginjak usia 19 tahun, saya sudah mencapai kesuksesan. Karena saya belum mengenal Tuhan, maka semua kesuksesan itu, saya capai dengan mengandalkan kepandaian dan kemampuan sendiri. Dengan uang sendiri, saya mampu membeli sebuah rumah di Pontianak, di jl. A. Yani 2. Karena sudah beli rumah di Pontianak, saya sering bolak-balik Pontianak-Kubu.
Pada waktu itu keluarga kami kurang harmonis. Papa dan Mama sering ribut. Papa tetap tinggal di kampung, sedangkan Mama tinggal di Jakarta. Saya sendiri tinggal di kampung juga. Hubungan saya dengan Papa juga tidak baik. Saya memilih untuk melanjutkan hidup sesuai tujuan saya sendiri. Saya tidak mau melanjutkan usaha Papa, sekalipun itu yang Papa harapkan. Padahal saya bukan anak pertama, tetapi Papa mau mewariskan uasahanya kepada saya. Namun saya tidak mau.
Abang dan kakak saya cukup berpendidikan. Sedangkan saya hanya lulusan SD saja. Saya berhenti sekolah, ketika SMP kelas 1. Jadi, setelah dewasa dan mampu membeli rumah di Pontianak, saya menjemput Mama dari Jakarta untuk kembali. Sekembalinya mama dan berjumpa lagi dengan Papa, justru tidak menyelesaikan masalah, malah mereka semakin ribut dan tidak harmonis. Papa juga tidak mau tinggal bersama mama. Akhirnya mama tinggal bersama saya.
Berjalan dengan waktu bisnis saya mengalami pasang-surut, naik-turun. Setelah berkeluarga  pada usia 22 tahun, saya berpisah dengan Papa. Ketika itu istri saya sudah mengandung 7 bulan. Tetapi walaupun saya sudah pindah ke Pontianak, bisnis saya masih di kampung, karena saya membuka sebuah soumil di kampung. Jadi, saya sering bolak-balik Pontianak-kampung.
Jujur saja, dalam menjalankan bisnis di luar Tuhan, saya hanya mengandalkan otak dan otot, kekuatan sendiri. Jika mau dibilang, kesuksean yang saya capai saat itu, ya tidak terlalu sukses sekali. Uang sih banyak, namun kesuksesan yang dicapai itu belum memberikan kebanggaan atau dapat saya nikmati. Sepertinya uang itu, kalau dihitung ada, tetapi sebenarnya tidak ada. Kalau kita bisnis kayu, keuntungan bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Tetapi uang sebanyak itu terkadang tidak ada di tangan. Biasanya lari kembali ke modal atau bayar hutang atau juga dihutang orang. Karena banyak yang tidak bayar secara cash, alias kredit.
Berjalan terus usaha saya dibisnis kayu, saya sudah “main” dengan perusahaan besar, terutama perusahaan-perusahaan plywood besar di Pontianak. Saya mulai dikenal oleh bos-bos perusahaan besar itu. Pesaing-pesaing usaha saya memang banyak, terutama mereka yang sudah senior, saya kan masih termasuk junior dalam bisnis ini. Saat itu, saya sudah dipercaya oleh tiga perusahaan besar, yang mau bekerjasama dengan saya. Tetapi sayangnya, tidak ada satu perusahaan pun yang mengakhiri kerjasamanya dengan saya, tanpa perkelahian. Selalu ada masalah. Rata-rata setelah bekerjasama 3-4 tahun, terus diakhiri dengan keributan.
Ya, dalam menjalankan kerjasama, saya tidak hanya menggunakan kemampuan saya sendiri, tetapi saya juga menggunakan kuasa gelap, orang-orang pintar, alias dukun, loya, pawang.  Jadi, ketika saya masuk sebuah perusahaan, terlebih dahulu saya ikat kuasa kegelapan yang mereka miliki, dengan kuasa gelap yang saya miliki. Jadi, melawan setan dengan setan juga. Supaya perusahan ini bisa saya taklukan dan percaya dengan saya.
Itulah sebabnya, saya bisa menjadi penguasa, supplyer tunggal bagi perusahaan-perusahaan besar itu. Bahkan jika ada supplyer lain yang coba masuk, harus melalui saya. Bisa dikata, saya memonopoli ketiga perusahaan itu. Dengan demikian, saya bisa mengambil untung dari kayu yang mereka tawarkan. Selain itu, perusahaan memberikan saya fee. Sambil itu, saya terus mencari mitra yang mau bekerjasama.  Perusahaan tidak boleh membocorkan harga yang telah saya tentukan dengan supplyer, demikian juga sebaliknya.            
Kalau bisa dibilang, kehidupan saya pada saat itu senang. Tetapi jika dipikirkan sekarang, kehidupan seperti itu tidaklah senang, malah capek kerja seperti itu. Kerjanya ribet...dikejar-kejar orang, baik itu aparat, LSM, dan musuh-musuh lain.  Sehingga hidup tidak damai, tidak tentram.
Untuk mencari kebutuhan akan kedamaian dan ketentraman ini, saya mencarinya dengan cara-cara dunia. Maklumlah karena belum kenal Yesus. Saya berusaha mencari kesenangan dunia. Ketika ada tamu dari kampung yang datang membawa kayu, biasanya saya mengajak mereka mengikuti hiburan malam. Kita bawa ke diskotik, karaoke, pelacuran, mabuk-mabukan, narkoba, dll. Pada awalnya saya hanya mengantarkan tamu-tamu itu, tetapi akhirnya saya terjerumus juga. Bukankah Alkitab berkata bahwa pergaulan yang buruk, merusak kebiasaan baik? Jadi saya terus mencari kesenangan dunia. Kalau di rumah saja, rasanya sumpek. Tetapi kedamian tetap tidak saya peroleh. Saya jadi sering keluar, rumah hanya sekedar tempat untuk tidur saja.
Berjalan dengan waktu, saya terus bekerja dengan mengandalkan kuasa gelap dan kekuatan sendiri. Tetapi kehidupan saya tetap tidak ada kedamaian, dan rumah tangga berantakkan. Jadi jangankan mau mencari Tuhan, mendengarkan nasehat istri saja tidak mau. Saya tahu tentang Tuhan, tetapi hati tidak pernah tertarik mencari Tuhan. Saya merasa bahwa saya mampu dengan kekuatan sendiri. Jika sudah tidak mampu, saya bisa mencari paranormal, loya, dukun, orang pintar, dll., karena bisa saya bayar dengan uang. Kekuatan gaiblah yang saya cari. Tetapi saya pun tidak bisa terus mengandalkan orang-orang pintar itu, karena kekuatan dan sugesti mereka juga ada batasnya, sehingga kekuatannya tidak mempan lagi.
Proses pemulihan itu diawali dengan kebangkrutan saya. Saya bangkrut sekitar akhir 2003. Ketika itu, saya berusia sekitar 26 tahun. Saya menikmati sukses dalam bisnis kayu hanya sekitar empat tahun. Terakhir dalam bisnis kayu, saya berada di Nanga Pinoh, main logging. Saya sempat ribut dengan salah satu bos dari tiga perusahaan besar yang saya sebutkan di atas. Hal ini akhirnya diperkarakan ke pengadilan. Akibatnya, saya sempat masuk sel.
Walaupun akhirnya kita berdamai, tetapi saya sudah sempat masuk sel dan mengalami kerugian harta benda yang cukup banyak. Harta sih masih ada, ini baru proses awal dari kebangkrutan saya. Saya sangat dendam dengan bos itu. Akibat dari peristiwa itu, banyak orang sudah tidak mempercayai saya. Kuasa gelap yang saya pegang itu juga sudah tidak mempan.
Karena dendam, saya bermaksud untuk membunuh bos ini, tetapi tidak kesampaian. Suatu hari, saya pulang dalam keadaan mabuk berat dan istri saya marah-marah. Ketika itu sudah tidak ada uang, karena usaha sudah macet akibat tidak ada lagi yang percaya dengan saya. Kemalasan menghinggapi saya. Kerja malas, maunya hanya mabuk saja, saya sangat stress. Nama baik saya sudah jelek, karena orang sudah tahu kalau saya pernah masuk sel.
Dalam keadaan terpuruk dan stress, akhirnya Tuhan tolong saya. Melalui abang sepupu saya, Bp. Adrianus, menginjili saya. Awalnya saya sangat marah dan mengusirnya. Tetapi Bp. Adrianus tidak pernah mundur, dia terus menginjili saya. Kalau tidak salah, ada sekitar 7 kali dia mengunjungi dan terus menginjili saya, dan sudah tidak terhitung berapa telepon yang ditujukan ke saya, berasal dari Bp. Adrianus. Beliau mengajak saya ke gereja. Awalnya saya tidak mau, karena dulu saya pernah coba-coba ke gereja, tetapi tidak mendapatkan apa-apa, hanya ngantuk saja, jadi saya tidak mau. Tetapi karena perasaan tidak enak, akhirnya saya menerima ajakan abang sepupu saya itu untk pergi ke gereja. Akhirnya kami pergi beribadah di Gereja Sungai Yordan. Ketika itu, gereja  masih di jl. H. Abbas I no. 52. Itu terjadi sekitar awal tahun 2004.
Begini ceritanya. Ketika tiba di gereja dan masuk ke ruang ibadah, saya sudah merasakan suatu yang beda. Berbagai kepercayaan sudah pernah saya peluk, termasuk kepercayaan nenek moyang. Tetapi yang satu ini, benar-benar berbeda. Saya merasakan adanya hembusan angin yang sangat kuat, seperti kalau kita masuk ke sebuah supermarket, kita akan merasakan tiupan angin yang kuat dari AC yang berada tepat di atas kepala kita. Seperti itulah yang saya rasakan. Tetapi tidak ada AC di atas kepala saya dalam ruang ibadah itu.
Saya tidak ambil pusing, terus masuk ke dalam dan duduk di deretan kursi sebelah kiri. Saya merasakan kuasa Tuhan dalam gereja sangat dahsyat. Ketika itu, Bp. Irwan yang melayani sebagai Worship Leader. Ketika duduk, saya terheran-heran melihat orang-orang yang ada disekitar, kok mereka kelihatan sangat sukacita. Mereka mengenakan pakaian yang bagus, rapi, sopan, baik suami-istri, maupun anak-anaknya. Saling senyum dan bersalaman, kayaknya mereka sangat merasakan kedamaian yang belum saya rasakan.
Saya yakin, ketika saya melihat jemaat itu, sebenarnya Roh Kudus sudah mulai menjamah dan berbicara kepada saya. Pada saat itu, Bp. Adrianus sempat memperkenalkan saya dengan Bp. Yosepus Lele, yang adalah seorang leader (pemimpin kamit/komsel) di wilayah Sungai Raya Dalam. Dikemudian hari, saya dan keluarga, serta Bp. Adrianus bergabung dengan KAMIT yang dipimpin beliau.
Pada waktu pujian dinaikkan, saya melihat adanya sukacita yang luar biasa dalam diri jemaat, begitu indahnya. Saya pun ikut-ikutan memuji dan bertepuk tangan. Tetapi yang membuat saya tidak mampu bertahan adalah pada waktu penyembahan. Ketika lagu dinaikkan, hati saya langsung luluh. Baru pertama kalinya dalam sejarah hidup, saya mengalami hancur hati. Saya menangis sambil menjerit.
Ketika jemaat berbahasa roh, bahasa itu memang asing buat saya, tetapi kedengarannya sangat indah. Saya bertanya kepada Bp. Adrianus, bahasa ini aneh ya, ini bahasa apa? Maklumlah saya belum tahu tentang hal ini. Tetapi saya bisa menikmati alunan bahasa itu. Saya merasakan kedamaian yang tiada taranya, diikuti dengan rasa hancur hati. Sepertinya terjadi peperangan dalam hati. Disitu saya bisa berteriak memanggil nama Tuhan.
Saya tahu jika di gereja itu Tuhannya, dipanggil dengan nama Yesus. Bahkan saya juga sudah sering menyaksikan film-film tentang Yesus, yang pernah diputar di TV. Pada waktu penyembahan itu, pertobatan saya terjadi. Saya melihat dalam pikiran saya, semacam penglihatan, seperti sebuah film, dimana saya melihat semua dosa-dosa saya, sepertinya diputar ulang lagi. Saya menangis dan menjerit meminta ampun dengan Tuhan.
Dampaknya saya langsung alami, setelah ibadah. Ketika pulang, saya merasakan ada yang berbeda dalam hidup saya, ada sesuatu yang baru yang saya dapatkan. Lepas itu, saya masih aktif seperti biasanya. Walaupun sudah mengaku dosa, tetapi saya belum mampu melepaskan semua dosa itu. Terutama kesukaan saya yang suka minuman keras. Tetapi setelah mengalami lawatan pertama itu, saya ketagihan dan ingin mengalaminya lagi.
Akhirnya sekarang saya yang mengajak abang sepupu saya itu untuk pergi lagi ke gereja. Pasti abang sepupu saya itu heran dan terkejut. Pada kedatangan saya kedua di gereja, saya sudah bisa menyesuaikan diri. Saya sangat bersukacita dan menari mengikuti pengarah gaya di depan. Saya berkata kepada abang, “Hia, kalau yang kayak begini, saya mau...”.
Setelah mengikuti ibadah kali kedua inilah, perubahan radikal mulai terjadi dalam hidup saya. Saya tidak mau lagi ikut berkumpul dengan teman-teman yang suka ke diskotik, mabuk dan nge-drug. Teman-teman itu menelepon dan berusaha mengajak saya lagi, tetapi saya tidak mau. Sementara itu, saya sangat rindu untuk beribadah. Sepertinya menunggu sampai hari Minggu itu kok lama sekali.
Bp. Yosepus Lele selalu datang melayani saya. Pak Yosepus-lah seorang leader, yang bagi saya sangat memiliki sifat kebapaan. Dalam satu minggu, beliau dua kali datang mengunjungi saya. Melihat bapak ini datang saja, sudah membuat saya sangat terhibur, sekalipun dia tidak membawa apa-apa. Sepertinya ada api Roh dan kedamaian dalam dirinya. Jika bapak ini datang, rasanya ada keamanan.
Setelah beribadah beberapa minggu, saya mulai membawa istri dan keluarga ke gereja. Disitulah kami mengalami pemulihan. Memang, seperti kata orang-orang, kok sepertinya pertobatan kami itu sangat mudah, hanya seperti membalikan telapak tangan. Istri saya memang adalah seorang  wanita dengan figur ketundukkan yang bagus. Rupanya, diam-diam menjadi seorang Kristen sudah menjadi kerinduannya sejak lama, karena dia sudah sering melihat tingkah laku dari tetangga sebelah yang Kristen. Rasanya mereka hidup sangat rukun dan bahagia. Jika dibandingkan dengan kehidupan kami dulu, sangat bertolak belakang. Itulah yang membuat istri saya tertarik ke gereja. Selain itu, yang ikut tinggal di rumah juga sudah banyak yang Kristen, seperti adik saya, Atian. Anak saya pun sudah pernah dibawa ke sekolah minggu di Gereja Sungai Yordan, sebelum saya kesana.
Sebelum dibaptis, tidak lama setelah saya membawa keluarga ke gereja, saya mengikuti SHDR (Seminar Hidup Baru dalam Roh/sekarang bernama KG atau Kingdom Gathering). Saya mengalami hal-hal yang luar biasa dalam seminar itu. Saya mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang sangat luar biasa. Sejak mengikuti seminar ini, saya menjadi suka membaca Alkitab. Lebih luar biasanya lagi, Bp. Yosepus sebagai leader dan mentor saya, terus mengarahkan saya. Ketika roh saya sedang menyala-nyala, Bp. Yosepus terus “memepet” saya. Dia tidak memberikan saya kesempatan untuk terlepas lagi. Dia terus mengunjungi saya dua kali dalam seminggu dan mengajak saya ke KAMIT (dulu komsel).
Saya bertanya kepada beliau, apa hanya saya sendiri yang dilayani seperti ini? Dia menjawab, “Saya melayani semua jiwa yang dipercayakan, sama seperti saya mealyani kamu, tetapi tidak semuanya menaggapi dengan respon yang baik. Mereka yang menanggapi dengan respon yang baik, seperti kamu dan yang lain, pasti akan berubah dan mengalami sesuatu yang baik dalam hidupnya.
Saya terus bertumbuh sampai saya dibaptis. Ketika kami suami-istri bertobat, kami segera dibaptis. Ketika pulang sampai di rumah, kami masih merasakan dinginnya air baptisan bahkan seakan-akan merasuk sampai ke tulang. Selain itu, mata kami kok terasa terang. Istri saya berkata, “Kenapa mata kok rasanya beda ya, sangat terang, sepertinya tidak ada lagi sampah.” Ini adalah suatu pengalaman yang luar biasa.
Setelah dibaptis dan bergabung dalam KAMIT, saya mengikuti pemuridan 7 Pelabuhan (sekarang SMK). Saya terus dibimbing oleh Pak Yosepus dan dimuridkan oleh Bp. Sukardi. Melalui pemuridan, keinginan saya untuk mengenal Tuhan lebih dalam, semakin menjadi-jadi. Inilah pengalaman saya bisa bertumbuh.
Tetapi jujur saja, rohani sih rohani, tetapi saya kan juga masih ada kebutuhan? Saya masih menganggur saat itu, akibat dari kebangkrutan saya. Jadi ketika bertobat, saya merasa damai, sukacita, tetapi secara jasmani, saya belum mengalami perubahan apa-apa. Saya butuh uang dan butuh makan.
Benar. Karena tidak ada uang sehingga tidak bisa membayar tagihan, listrik di rumah kami dicabut oleh pihak PLN. Demikian juga dengan PDAM dan telepon juga diputuskan. Rumah juga hampir dieksekusi oleh Bank. Pihak Bank menganjurkan supaya rumah itu dijual saja dengan cara diiklankan di koran. Saya bilang bukannya tidak mau, tapi saya tidak punya uang untuk pasang iklan. Setelah saya berkata demikian, ajaibnya pihak Bank bisa memberikan saya uang dua ratus ribu rupiah untuk pasang iklan. Bagi saya, itu hal yang tidak mungkin terjadi, tetapi memang demikianlah kejadiannya. Uang dua ratus ribu itu saya gunakan untuk memasang iklan di koran, selebihnya saya gunakan untuk membeli beras karena persediaan kami sudah habis. Itu semua terjadi setelah kami bertobat. Kalau dulu saya bisa stress dan tidak tahu kemana harus meminta pertolongan, sekarang saya bisa berteriak pada Tuhan. Jika saya berteriak kepada Tuhan, rasanya enjoy.
Akhirnya, saya mengambil keputusan untuk menggadaikan motor saya. Uangnya saya pakai untuk bayar hutang, bayar semua tagihan seperti telepon, PLN, PDAM. Sisanya tinggal sekitar 7 jutaan untuk kehidupan kami sekeluarga waktu itu. Tetapi ya lama kelamaan habis. Saya kembali mendapatkan penawaran dari keluarga untuk kerja kayu lagi di Putusibau. Sedangkan saya sudah bicara dengan gembala bahwa kami tidak akan kerja kayu lagi. Lalu tidak lama kemudian, seorang paman minta saya kerja di Kaltim dengan gaji 5 juta sebulan, di plywood, berarti kayu lagi. Wah, ini sangat menjanjikan buat saya.
Tetapi saya sangat bergumul untuk mengambil keputusan. Disatu sisi, saya sangat membutuhkan uang. Disisi lain, jika saya meninggalkan Pontianak, maka kemungkinan kerohanian saya tidak bisa bertumbuh. Ini satu keputusan yang sangat sulit bagi saya. Saya menceritakannya kepada Bp. Yosepus. Beliau tidak berani memberikan saya option, apalagi keputusan, dia hanya bisa mendoakan.
Sejak saya bertobat, saya banyak memenangkan keluarga, termasuk adik saya Herpi. Walaupun saat itu masih belum bekerja dan terpuruk dalam hal ekonomi, saya bisa mengajak orang untuk bertobat, karena mereka melihat perubahan saya. Teman-teman yang sering mengajak saya ke disko, pelacuran dan mabuk, juga saya injili. Ada yang memberi respon, tetapi ada juga yang mengolok.
Saya memang lagi on fire. Semua acara gereja kita selain KAMIT dan ibadah raya, saya ikuti, seperti doa malam, pemuridan dan winner fellowship. Tetapi saya masih saja bergumul soal kehidupan. Gimanalah, saya tidak ada kerjaan.
Semua hanya karena Roh Kudus. Suatu hari saya berdoa dan Roh kudus mengingatkan saya kembali menjual rumah saya. “Kamu buat sebuah papan nama dengan tulisan ‘RUMAH INI DIJUAL’ dan gantungkan di tempat yang dapat terlihat,” bisik Roh Kudus. Jujur saja, ada orang yang lewat juga tetangga malah mengolok dan menertawakan. “Nah, tuh kan? Belum ada uang sudah mau beli rumah. Akhirnya rumahnya dijual”, kilah mereka. Saya merasa terhina dan hancur hati.
Sementara itu, untuk mencukupkan kebutuhan sehari-hari, saya terpaksa kerja sebagai tukang bangunan dengan tetangga-tetangga saya dan bekerja sebagai kuli di sebuah toko yang menjual gula pasir di Kapuas besar. Satu hari, saya hanya mendapat Rp. 35.000,00. Uang yang saya dapatkan ini pun habis kena tipu orang.
Ceritanya, suatu hari ada orang datang rencananya mau lihat dan berniat membeli rumah saya. Sore harinya, orang ini datang lagi dan mengaku baru mengalami kecelakaan dan minta bantuan uang. Karena merasa iba, akhirnya saya menolong orang itu, yang ternyata sedang menipu saya. Jadi akhirnya uang yang ada pun amblas.
Tentang rencana ke Kaltim, saya mengalami peristiwa ini. Ketika itu, di gereja diadakan KGS (Konferensi Gereja Sel) dengan pembicara Pdt. Obaja Tanto Setiawan dan salah satu staffnya Pdt. Agung, yang adalah seorang pendeta juga sekaligus pengusaha garmen. Saya berkata kepada adik saya, “Tuh, itu baru mantap. Pendeta, melayani, tetapi tidak digaji. Dia membiayai hidupnya sendiri dengan usahanya. Dia part timer, tetapi melayani seperti full timer.” Ketika penyembahan, saya merasakan jamahan Tuhan, lalu saya berdoa dan berkata, “Tuhan , Engkau nyatakan kehendakMu. Apakah saya harus tetap di Pontianak atau berangkat bekerja di Samarinda (Kaltim)? Aku memohon Engkau nyatakan sekarang juga keputusanMu!”
Ternyata suara Tuhan itu benar-benar ada dan terdengar. Tetapi suara itu akan terdengar pada saat kita benar-benar “mematikan” diri kita. Dan itulah yang saya lakukan saat itu. Saya berlutut dan berkata, “Tolong saya Tuhan! Saya tidak bisa bebuat apa-apa lagi. Saya ada banyak tanggungan, istri, anak. Juga hutang-hutang. Tolong saya Tuhan. Saya sudah banyak mengalami kebaikkanMu.” Tuhan hanya menjawab dengan singkat, “Kamu tetap di Pontianak.”  Saya meresponi perkataan Tuhan, “OK tuhan, saya percaya ini suaraMu.” Meskipun saya sangat membutuhkan uang, tetapi saya putuskan untuk tetap di Pontianak sesuai kata Tuhan. Jika saya menerima tawaran dari Paman di Kaltim, saya langsung mendapatkan uang Rp.10 juta, untuk beli tiket dan uang untuk kebutuhan keluarga. Tetapi saya tetap memilih taat pada kehendakNya.
Setelah bubar dari semianr, saya langsung mengejar dan memeluk Bp. Yosepus. Sambil menangis, saya berkata, “Pak, saya tidak akan meninggalkan Pontianak.” Bp. Yosepus ikut menangis. Hati kami hancur berkeping-keping. Bp. Yosepus melihat wajah saya berbinar-binar, seperti seorang bapa yang sedang memandang anaknya. Dia sangat mengasihi saya. Beliau berkata, “Ayub, ayo bangkit semangatmu.”
Sejak itu, saya bersemangat lagi dalam Tuhan dan menelepon paman saya untuk menyatakan ketidaksediaan saya berangkat ke Kaltim. Yah, tidak dapat uang. Kerja, ya seperti yang saya ceritakan di atas. Tetapi saya rajin berpuasa, baik itu puasa karena panggilan hati, juga karena terpaksa, karena uang dapur tidak cukup, mengalah untuk istri dan anak. Dalam seminggu, saya bisa berpuasa sampai 5 kali. Tetapi walaupun puasa, saya tidak merasa capek, sekalipun bekerja keras.
Ketika itu, dalam keadaan sulit, makanan kesukaan kami adalah kangkung dan genjer, yang kami tanam di depan rumah. Itu pun hanya direbus, dimakan pake sambal belancan. Hampir setiap hari inilah menu utama kami. Kalau dulu saya mampu membelikan anak saya susu yang mahal, saat itu saya hanya mampu membelikan susu kental manis kalengan.
Saya kagum dengan Tuhan, tetapi sedih melihat keadaan anak-anak saya. Namun saya tetap memiliki pengharapan. Seringkali Pendeta berkotbah tentang kesuksesan, sudah mencium aroma kesuksesan. Dalam hati saya berkata, “Sukses apanya, lagi bokek nih.”
Suatu hari, hari yang saya anggap sebagai hari yang penuh berkat luar biasa. Saya percaya, inilah waktunya Tuhan memberkati saya. Hari itu, saya berdua dengan adik saya, Herpi,  sedang berkeliling Pontianak mencari pekerjaan. Sampailah kami di depan GOR Pangsuma. Saya memang sering ke kompleks GOR Pangsuma, bukan untuk berolah raga, tetapi untuk rileks. Juga karena tidak ada uang. Kalau diam di rumah terus, nanti dibilang pengangguran, malu. Itulah sebabnya saya sering berteduh dan merenung di bawah sebuah pohon depan GOR Pangsuma.
Akhirnya, pada hari itu, dibawah sebuah pohon rindang depan GOR Pangsumah, saya menelepon bapak Gembala. Gembala menyuruh saya ke kantor gereja di jl. H. Abbas. Gembala sudah tahu jika saya masih keponakkannya, karena saya sempat menceritakannya. Lalu saya menceritakan semua pergumulan saya kepadanya. Gembala mensharingkan kembali mengenai kesuksesan dan KPR 3M (Katakan, Pikirkan, Rasakan, Mendengarkan, Merenungkan dan Melakukan). Sekarang disebut KPR 3T (Terobsesi, Terasimilasi, dan Terstimulasi).
Saat itu, saya menerima apa adanya sharing itu. Gembala memberikan saya firman Tuhan dalam Markus 11:24, yang berkata, “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” Saya menerima firman itu dengan sukacita.
Selanjutnya, Gembala mengatakan, “Yub, saya ini om kamu. Jika kamu minta 10 juta, saya bisa mencarikannya untuk kamu. Tetapi begitu kamu menerimanya, itulah nilai kemiskinan kamu.” Saya mengerti, karena jika saya menerima uang hasil sebuah permintaan, alias minta-minta, maka artinya saya adalah pengemis. Saat itu juga  gembala bernubuat untuk saya. Dia berkata, “Yub, saya tidak mau melihat kamu seperti ini. Saat ini, kamu sedang berjalan di atas batu kerikil. Tapi lihatlah di tempat jauh itu, terdapat aspal yang licin. Itulah hidupmu. Aku nyatakan kepadamu, kamu akan bersaksi kepada ribuan orang tentang kesuksesanmu.” Setelah didoakan, tidak terasa kami telah berbicara selama 3 jam.
Ketika pulang, firman Tuhan yang diberikan kepada saya itu, masih terus terngiang-ngiang. Seminggu kemudian, ketika saya sedang merenungkan ayat tadi, saya terus katakan, pikirkan dan rasakan ayat itu, tetapi saya masih belum menemukan hal apa yang seharusnya didoakan dengan sepakat bersama keluarga. Jadi masih agak sedikit “ngelantur”. Saya mendapatkan firman Tuhan di Matius 18:18-20, yang berbunyi, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitu Aku ada di tengah-tengah mereka."
Ketika saya mendapatkan firman itu, langsung saya melompat. Firman inilah yang mendasari saya mendapatkan visi “Hosana bagaikan Burung Rajawali!”. Firman inilah dan Markus 11:24 tadi, yang terus saya pegang sampai saat ini. Kedua firman ini, sangat meresap dan berakar dalam hati dan jiwa saya.
Akhirnya saya mengumpulkan seluruh keluarga dalam rumah saya. Saya tunjukkan ayat itu dan mengatakan inilah saatnya kita praktekkan firman ini. Keluarga pun meresponi perkataan saya. Kami bermaksud untuk berkumpul dan berdoa pada malam harinya. Kami sekeluarga mau menyatakan kesepakatan yang sama dalam doa. Ketika kami berkumpul, saya membaca Matius 18:18-20 itu dengan sungguh-sungguh dan kepercayaan penuh, bahwa kita harus mencapai kesepakatan. Kami bersepakat berdoa untuk membuka sebuah toko bangunan. Jadi anggota keluarga lainnya rela berkorban dan mendukung doa untuk membuka toko bangunan itu. Kami bergandengan tangan memanjatkan doa sepakat ini. Setelah berdoa, kami sepakat untuk berpuasa, yang dimulai dari pukul 24 malam itu juga, selama 3 hari berturut-turut. Jadi selama tiga hari itu, setiap pk. 24 malam, kami berdoa dan berbahasa roh, sampai kami lupa waktu. Bahkan kami mengalami jamahan Tuhan yang luar biasa, sekalipun tidak ada pendeta yang melayani kami waktu itu, hanya berempat. Kami mengalami manifestasi lawatan Tuhan, berteriak, tertawa, menangis, dan berbahasa roh. Sampai ibu saya menganggap kami sudah gila. Setelah itu, setiap hari kami melakukan KPR 3M.
Hampir setiap hari kami putar-putar kesana-kesini dengan motor,  mencari lokasi yang tepat untuk mendirikan toko bangunan, sekalipun uang belum ada. Setelah itu ya kerja pikul gula di Kapuas Besar. Ketika sedang bekerja sebagai kuli, saya bertemu dengan teman-teman lama, mantan anak buah saya dulu. Mereka hampir tidak percaya, “Ah masa ia sih, itu kan bos kita dulu, sekarang kok jadi kuli? Aduh bos, kok jadi begini?” Seorang teman yang bekerja sebagai kepala Bea Cukai pelabuhan dan bukan seorang Kristen, datang bertemu bos di tempat saya bekerja. Dia juga sama terkejutnya sepeti teman yang lain.  “Ini, kamu kah?” katanya. Lalu dia berkata kepada bos tempat saya bekerja, “Kau apakan dia ini, kok jadi begini? Dulu dia kan bos?” Saya malu sekali dan menjawab, “Ya, inilah keadaan saya sekarang, seperti yang Anda lihat.” Sambil tertawa, teman itu menjawab, “Hui, kamu tamu gak? Kamu pasti akan sukses!” Setelah itu, saya langsung lari ke belakang, bersujud dan menangis. Saya berkata, “Ini adalah suara dari Tuhan melalui teman saya itu, sekalipun dia bukan Kristen!”
Tidak lama kemudian, rumah saya laku terjual. Setelah menerima uangnya, saya membayar hutang-hutang, membayar hutang di bank, tinggal sisa  sekitar Rp. 90-an juta. Dengan semangat saya berkata, inilah modal awal kita untuk membuka toko bangunan. Tapi ternyata itu bukanlah modal awal toko bangunan, karena uang itu ludes dibawa lari orang. Seorang teman datang meminjam uang itu sebagai modal usaha sebesar Rp. 75 juta. “Jika berhasil, akan bagi hasil,” katanya. “Boleh pinjam, tapi tidak boleh lama, harus segera dikembalikan,” Kataku. Dia menjawab, “Paling dua bulan.” Tapi ternyata uang itu tidak pernah kembali. Tinggalah sisa Rp. 15 juta, yang saya pakai untuk uang muka membeli sebuah mobil pick up. Uang sudah ludes dan orang yang punya rumah minta dalam jangka waktu dua bulan, saya sudah harus pindah. Saya bergumul karena tidak punya uang lagi.
Suatu sore, saya bertemu dengan salah satu om saya. “Eh, Wi, rumahmu udah dijual kan?” “Sudah”, Jawabku. “Kamu mau buka usaha apa?” Tanyanya. Saya katakan jika saya mau buka toko bangunan. “Wah, kalau gitu boleh dong, kita join. Om juga ingin membuka toko bangunan”, Katanya. Saya bertanya, “Boleh. Tapi om ada uang berapa?” “Berapa yang kamu perlukan?” Tanyanya. “Kurang lebih 200 juta-an”, Jawabku. Akhirnya kami sepakat untuk join dan masing-masing mengeluarkan uang 100 juta sebagai modal awal. Saya OK-kan, sekalipun sebenarnya saya tidak punya uang. Akhirnya kami cari tanah lokasi pembangunan toko bangunan itu. Kami dapatkan di Sungai Raya Dalam, tempat yang kami gunakan sampai sekarang.
Waktu itu, tidak langsung saya beli tanah itu, tapi saya mau sewa. Saya masih mengujinya. Saya berdoa, “Tuhan saya rencana mau menyewa tanah ini. Jika ini dari Tuhan, maka saya bisa menyewa tanah ini maksimal Rp. 4,5 juta/tahun.” Setelah itu, saya berjumpa dengan pemilik tanah dan orang itu mau menyewakan tanahnya dengan harga Rp. 6 juta/tahun. Saya berpikir, kalau begitu, ini bukan kemauan Tuhan.Tanpa tawar-menawar lagi, saya membatalkannya. Tetapi dua hari kemudian, orang itu menghubungi saya dan langsung menawarkan saya untuk menyewa tanah itu, tepat seperti yang saya inginkan, Rp. 4,5 juta/tahun. Padahal saya belum mengatakan apapun kepadanya.  Bagi saya, ini adalah mukjizat. Dari Rp. 6 juta, langsung turun menjadi Rp. 4,5 juta. Tanpa tawar-menawar lagi, saya langsung setuju dan masuk ke kamar, bersyukur pada Tuhan. Langsung kami menyewa selama lima tahun. Om saya datang dan kami membuat surat perjanjian dihadapan notaris. Akhirnya dibangunlah toko bangunan ini, sekaligus tempat tingal kami.
Tetapi rupanya prosesnya belum selesai, masih berkelanjutan, dan kami pun bergumul lagi. Memang, jika mau sukses, kita harus menghargai setiap proses yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita. Prosesnya dahsyat dan panjang. Setelah toko bangunan dibuka, adik saya Herpi bekerja dengan saya. Kami bergumul lagi untuk tambahan modal. Akhirnya kami bermaksud pinjam uang untuk tambahan modal sebesar Rp. 50 juta dengan seorang paman saya di Putusibau. Paman saya itu senang mendengar pertobatan saya dan menasehati saya untuk tidak bergantung kepada manusia. Sampai tiga bulan saya menunggu uang pinjaman itu, akhirnya saya meneleponnya kembali. Paman saya lupa dan meminta maaf, lalu dikirimkanlah uang itu kepada saya, hanya Rp. 25 juta saja, separuh dari permintaan saya. Saya terima apa adanya.
Proses belum selesai dan masih berlanjut. Kami sering dimarahin oleh agen, karena kami mengambil barang terus, sedangkan hutang tidak dibayar-bayar. Maklumlah, modalnya belum cukup. Tetapi saya tetap setia melakukan apa yang menjadi kewajiban saya. Perpuluhan saya bayar. Persembahan sulung, sebagai hasil pertama saya dari toko bangunan itu pun saya bayar kepada gereja.Tapi jumlahnya masih kecil, karena memang itu hasil pertama kami. Pada waktu membawa persembahan sulung itu, dengan iman saya berkata, “Tuhan, saya mau menjadi pengusaha property”.
Namun apakah persoalan selesai? Tidak! Toko saya sepi, karena lokasinya terletak di ujung jl. Sungai Raya Dalam. Jujur kalau dikatakan saya sempat loyo, itu benar. Suatu hari, ketika saya mengendarai motor hendak jemput anak saya, Tuhan berbisik dalam hati saya, “Aku akan mempromosikan kamu dan Aku akan menjadikan kamu kepala dan bukan ekor.” Saya menjawab, “Tuhan, saya sudah cek disepanjang jalan ini, anak Tuhan yang buka toko bangunan hanya saya. Tetapi toko saya yang paling sepi.” Tiba-tiba Tuhan menjawab, “Kamu pergi dan promosikan tokomu.”
Sepulangnya, saya menceritakan hal ini kepada Herpi, adik saya. Lalu kami sepakat mencetak kartu nama dan selama satu bulan, dengan mengendarai motor, kami melakukan sales dan membagikan kartu nama. Kami mendatangi hampir setiap proyek yang ada dan mempromosikan toko kami. Awalnya, belum memperlihatkan hasil apa-apa. Tetapi empat bulan kemudian, langganan mulai bermunculan, pembeli menjadi ramai, dahsyat!
Ketika Dia menguji hati kita, apakah ada mengandung unsur kekekalan? Keseriusan? Redup atau bersemangat? Masih bertahan? Dan kami maih bertahan sampai saat ini. Setelah menunggu empat bulan, orderan datang silih berganti. Dari pembangunan lapangan Futsal di Sepakat I, Perumahan Duta Bandara, dll. Haleluyah. Hutang pun mulai bisa dibayarkan, para agen tidak marah-marah lagi. Enam bulan kemudian, terhitung dari sejak saya memberikan persembahan sulung yang pertama kali, saya mendapat order besar dari PT. Omega untuk membangun perumahan Bhayangkara. Saya langsung dihubungi dan dikontrak untuk membangun 80 rumah. Dengan modal yang langsung diberikan oleh pihak PT. Omega. Tapi proses ini masih juga belum selesai.
Saya belum memiliki pengalaman membangun perumahan. Tapi tetap saya terima penawaran ini. Keuntungan saya hanya Rp. 1,7 juta/rumah. Saya coba untuk membangun satu rumah percontohan. Pembangunan rumah contoh itu berhasil dengan baik, terjual dan keuntungan mulai masuk. Terus kami berhasil sampai ke- delapab puluh rumah itu terbangun dan terjual, dalam waktu hanya empat bulan saja. Saya mendapat keuntungan sekitar Rp. 300 juta. Haleluyah! Tangan Tuhan memang sungguh luar biasa, Dia membuat kita tercengang-cengang dengan berkatNya.  
Karena keberhasilan itu, saya berencana untuk benar-benar meningkat dari hanya toko bangunan, menjadi pengusaha property. Saya membangun CV. Hosanna Utama dan pada bulan Oktober 2006, kami mulai membangun sebuah perumahan di daerah jl. Ujung Pandang. Semua keuntungan yang sudah kami dapat, saya jadikan sebagai modal. Saya melakukan semuanya itu, tidak terlepas dari melakukan KPR 3M (sekarang 3T). Saya membayangkan bagaimana jadinya perumahan yang saya bangun itu. Ketika perumahan itu selesai dibangun, jadinya persis sama dengan apa yang saya bayangkan.
Mujizat yang lain yang saya alami salah satunya adalah peristiwa ini. Ketika itu, kami mau membeli tanah seharga Rp. 1,7 M, yang dimilik sekelompok orang (8 orang) , tapi kami bayar panjar hanya Rp. 150 juta. Jujur, secara manusiawi, mana mungkin ada orang yang mau balik nama lahannya yang seharga Rp. 1,7 M itu, hanya dengan panjar Rp. 150 juta. Tetapi itulah yang terjadi. Tuhan kita memang dahsyat!
Mukjizat lainnya yang kami alami adalah dalam pembangunan yang kami lakukan. Sekalipun kami juga sempat mengalami krisis ekonomi, tapi Tuhan begitu membela kami. Ketika mengalami krisis, rumah kami tidak terjual. Tetapi tiba-tiba ada pengumuman dari kementrian bahwa harga sebuah rumah tipe 36, naik menjadi Rp. 55 juta/buah dari harga awal Rp. 47 juta/rumah. Dan luar biasanya, setelah kenaikkan harga itu, justru rumah yang kami bangun itu banyak terjual. Yang lebih luar biasa lagi, belum selesai proyek perumahan ini, kami diijinkan Tuhan untuk mebangun sebuah perumahan lagi, yaitu Hosanna Griya, pada tahun 2008. Setelah Hosanna Griya, pada Desmber 2010, kami membangun lagi perumahan Hosanna Victory. Jadi Tuhan mempromosikan kami secara berturut-turut. Sampai sekarang, perumahan yang telah kami bangun, antara lain Perumahan Bhayangkara, Villa Brata, Hosanna Griya dan Hosanna Victory.
Seiring dengan naiknya bisnis saya, kerohanian saya juga meningkat. Dimulai dari menjadi pekerja biasa, kemudian menjadi leader (memimpin sebuah KAMIT/komsel), lalu menjadi koordinator Bukit Doa Mazmur 21, Ketua Departemen Outreach, juga koordinator Ibadah Raya II. Hal ini sesuai dengan firman Tuhan yang berkata, jika kita setia dalam perkara kecil, kita akan diberi tanggungjawab dalam perkara yang besar. Ingatlah bahwa setiap pelayanan yang dipercayakan kepada kita, harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana tangggung jawab kita menyelesaikan pekerjaan sekuler kita. Kita ini abdinya Tuhan. Itulah sebabnya dalam kantor, saya memajang sebuah poster besar bertuliskan JESUS, IS MY BIG BOSS. Jadi semua harus saya laporkan kepada Tuhan Yesus. Bukan hanya pada waktu ada masalah, tetapi juga keuntungan, pengeluaran, dan banyak hal lain, saya laporkan kepada BIG BOSS.
Jadi saudara, ingatlah:
1. Segala sesuatu yang kita punya adalah milik Tuhan. Kita hanya diberi kepercayaan untuk mengelolanya.
2. Inti dari kesuksesan adalah berserah penuh kepada Tuhan.
3. Hargai proses, waktu dan sesama. Ketika kita diproses, sebenarnya Tuhan sedang memberkati kita. Saya selalu beraggapan bahwa kita tidak bisa diberkati, tanpa melalui masalah.  Tapi masalah yang terjadi disini, bukan akibat dari dosa yang kita lakukan, tapi merupakan proses pendewasaan kita. Hargai juga sesama, sebab sesama kita adalah mitra kita. Kita tidak bisa berhasil dengan bekerja sendiri. Kita perlu mitra.
4. Tetap lakukan dengan setia ATM KPR 3T. Amati, Tangkap sesuatu dan Melakuan firman Tuhan. Katakan, Pikirkan dan Rasakan firman Tuhan itu, sampai kita Terobsesi, Terasimilasi dan Terstimulasi oleh firman itu.

Sampai akhirnya seperti sekarang inilah, bisa menikmati kesuksesan dan mengalami ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan.Sekalipun saya masih tinggal di rumah yang sangat sederhana, lantai dan dindingnya dari papan. Boleh saja kita memiliki rumah yang bagus, tetapi bukan itu tujuan hidup saya. Yang penting kita bekerja bersama Tuhan. Disaat kita mengurus pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada kita dengan benar, maka saya percaya Tuhan akan memberikan apapun yang kita butuhkan. Yang penting saya bisa menikmati semuanya ini, saya tidak pernah putus asa dan saya selalu percaya bahwa segala sesuatu dapat saya tanggung di dalam DIA, karena DIA yang memberikan kekuatan kepada saya.
Saya masih ada visi yang belum terlaksana. Saya ingin membangun sebuah kota satelit mandiri, misalnya seperti Bumi Serpong Damai dan Pantai Indah Kapuk di Jakarta atau sejenisnya. Saya berencana menamai kota satelit mandiri ini, “Hosanna City”, sebuah kota dengan prasarana lengkap seperti Mal, Hotel, Rumah Sakit bertaraf internasional, Sekolah bertaraf internasional dari play group sampai perguruan tinggi, proyek pariwisata, dan segudang fasilitas lainnya.  Inilah mimpi saya. Dan kami sedang bergerak kesana. Modalnya mungkin diperlukan triliunan rupiah. Tapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan dan bagi orang kepercayaan-Nya.
Haleluyah! Demikianlah kisah perjuangan seorang Ayub Haryanto, yang memberikan motivasi dan inspirasi bagi kita semua. Sampai saat ini Bp. Ayub Haryano beserta istrinya, ibu Susan (34), telah dikaruniakan dua anak, yaitu Handsen Pratama (12) dan Chesia Anggelina (10). Mereka sekeluarga tinggal di Sungai Raya Dalam, Pontianak, yang berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus toko bangunan dan juga kantor bisnis property yang dibangunnya. Sampai saat ini, toko bangunan dan bisnis property yang dijalankan, semakin berkembang dan maju. Siapa yang mau menyusul menjadi orang sukses? Pesan saya, lakukanlah kiat-kiat di atas. Itulah kebenaran yang akan membawa kita mencapai impian kita! Terus berjuang, maju terus! Ingatlah JESUS IS OUR BIG BOSS!!!